Kemana Arah Kurikulum 2013
Mau Dibawa Ke
Mana Kurikulum Kita?
Oleh: Muh
Nurrohman S.Sos.I
Ketua Pena Muhammadiyah
Pemalang Jawa Tengah
Dunia pendidikan di negeri
ini belum lepas dari berbagai persoalan. Ketika kualitas pendidikan kita jauh
tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain, pemerintah justru gemar
membuat kebijakan tanpa arah yang jelas.
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penanggung jawab pendidikan di Indonesia
masih saja mengumbar ketidakpastian. Terakhir, mereka ngotot untuk menerapkan
kurikulum baru mulai Juli 2013 kendati badai kritik datang menerjang. Kurikulum
anyar itu di satu pihak bakal mengurangi jumlah mata pelajaran, tetapi di lain
pihak menambah jam belajar.
Untuk SD, mata
pelajaran dari 10 dipangkas menjadi enam, yaitu matematika, bahasa Indonesia,
pendidikan kewarganegaraan, agama, olahraga, dan seni. Untuk SMP, jumlahnya
dikurangi dua dari 12 mata pelajaran sehingga siswa cukup menekuni pendidikan
agama, matematika, bahasa Indonesia, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan,
bahasa Inggris, IPA, IPS, olahraga, seni budaya, serta prakarya. Pendidikan memang
wajib mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum baru pun, tegas Mendikbud Muhadjir Efendi, dirancang untuk
menyiapkan generasi sesuai dengan zamannya. Yang jadi soal, dalih itu pula yang
selalu dicuatkan mendikbud-mendikbud sebelumnya untuk merombak kurikulum.
Semua alasan menteri
itu hanya menunjukkan tidak ada blue print, tidak ada grand design ke mana
pendidikan kita dibawa. Kurikulum kerap berubah ketika menteri pendidikan berganti.
Dalam kurun 28 tahun terakhir saja, setidaknya sudah tiga kali kurikulum
diganti. Pada 1984, pendidikan menganut model cara belajar siswa aktif, pada
2004 dengan kurikulum berbasis kompetensi, dan dua tahun kemudian berganti menjadi
kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Begitulah, pendidikan
dikelola sesuai dengan selera mereka yang berkuasa. Sepertinya tidak ada yang
bagus dari kebijakan bikinan pejabat sebelumnya sehingga mesti dirombak. Tidak ada
jaminan sebuah kurikulum akan bertahan lima tahun, 10 tahun, apalagi 50 tahun
ke depan. Alhasil, pendidikan di Republik ini tidak punya arah yang pasti.
Kurikulum 2013 amat
minim dipahami guru, apalagi publik. Cuma ada waktu sekitar enam bulan untuk
sosialisasi kepada sekitar 3 juta guru dengan kemampuan yang sangat beragam.
Kurikulum 2013 pun dinilai hanya fokus kepada materi ajar, sementara aspek pedagogis
atau metode pengajaran tidak tersentuh. Metode mengajar masih satu arah dari
guru ke murid. Toh, pemerintah abai dengan seabrek persoalan tersebut. Bagi
yang berkuasa, kurikulum 2013 ialah harga mati. Desakan agar pelaksanaan
kurikulum itu ditunda atau bahkan dibatalkan ibarat melawan angin.
Kurikulum yang
dipaksakan hanya akan membuahkan kebingungan di kalangan guru sebagai pelaksana
di lapangan. Para pahlawan tanpa tanda jasa terus saja bekerja di tengah ketidakpastian,
diimpit egoisme mereka yang punya kuasa. Kita tidak ingin berburuk sangka
kepada Mendikbud. Namun, bukan mustahil kurikulum 2013 dipaksakan karena ada
dana berlimpah dalam pelaksanaannya. Sama seperti program sertifikasi guru yang
telah menghabiskan ratusan triliun rupiah, tetapi tidak mengubah kualitas guru.
0 Response to "Kemana Arah Kurikulum 2013 "
Posting Komentar