Peran dan Tantangan Muhammadiyah di Era Global
Tepat tanggal 18
November 2018, Muhammadiyah menapaki usianya yang ke-106. Bahkan, jika
menggunakan kalender Hijriah, usia Muhammadiyah saat ini sudah 109 tahun. Berbagai
kegiatan diselenggarakan untuk menyambut Milad Akbar 1 Abad Muhammadiyah, dari
silaturahmi milad akbar,konferensi internasional, World Peace Forum (WPF),hingga
berbagai diskusi dan pengajian.Banyak spanduk terbentang di berbagai tempat
untuk menyambut Milad Akbar 1 Abad dengan tema “Sang Surya Tiada Henti
Menyinari Negeri” ini.
Tentu, tanpa
adanya eksistensi dan komitmen para kadernya, Muhammadiyah akan surut bersama
waktu sebagaimana organisasi yang seumur dengannya. Kita bisa membandingkan,
misalnya dengan organisasi serupa yang lahir pada tahun-tahun kelahiran
Muhammadiyah seperti Syarikat Islam dan Boedi Oetomo.
Peran Muhammadiyah
Menurut Syafi’iMa’arif
(2010), alasan yang paling logis yang menjadikan Muhammadiyah tetap mampu
berkiprah dan menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa
Indonesia, adalah kecerdikan memilih visi dan misi gerakannya. Ketika KH Ahmad
Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, beliau sudah memikirkan dan
menekankan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang bertumpu pada kekuasaan dan
tidak menjadikan kekuasaan sebagi tumpuan dan tujuan gerakannya.
Muhammadiyah
adalah organisasi sosial keagamaan yang bervisi melakukan khidamah dalam bidang
pembaruan keagamaan melalui kiprahnya dalam bidang pendidikan,kesehatan,
ekonomi keumatan, dan amal sosial lainnya. Dengan pilihan yang cerdik dan
cerdas itu, Muhammadiyah bisa terus bereksistensi dan menyumbangkan sesuatu
yang positif bagi pencerdasan dan kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia.
Karena itu, kita
bisa melihat betapa KH Ahmad Dahlan dengan cerdas mengadopsi sistem pendidikan
modern dan tata cara organisasi modern untuk diterapkan di kalangan umat Islam.
Dengan menggunakan sistem pendidikan modern yang berbasis pada penyelenggaraan
kelas-kelas dan pengenalan baca tulis huruf latin serta tata kelola organisasi
itu, umat Islam diharapkan bisa berdiri sama tinggi dan memiliki rasa percaya
diri yang sama dengan bangsa Barat dan kaum penjajah yang saat itu mencengkeram
Indonesia.
Berkaitan dengan
itu, menjadi tepat apa yang sering dikemukakan oleh Buya Syafi’i Ma’arif dalam
Forum Tanwir Denpasar 2002 tentang perbedaan dakwah dan politik. Menurut Buya
Syafi’i: “Politik mengatakan: si A adalah kawan, si B adalah lawan. Dakwah
mengoreksi: si A adalah kawan, si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah
dan memecah. Dakwah merangkul dan mempersatukan”.
Kita bisa
membayangkan, bagaimana nasib dan jejak historis Muhammadiyah jika sejak awal
memilih jalur politik dibandingkan jalur dakwah dan sosial kemanusiaan. Maka
dari itu, pilihan jeli dari KH Ahmad Dahlan dan yang dilanjutkan dengan penuh
amanah oleh para kader penerus dan pelangsung cita-cita Muhammadiyah bisa jadi
salah satu rahasia kenapa Muhammadiyah terus bisa eksis hingga hari ini.
Tantangan Muhammadiyah
Perjalanan 100
tahun pertama Muhammadiyah yang boleh dibilang cukup membanggakan dan
kontributif itu, tentu saja tidak secara otomatis akan berulang lagi pada 100
tahun kedua. Jika Muhammadiyah terlalu terlena, atau stagnan dalam menjalankan
kiprahnya untuk umat Islam, Indonesia, dan dunia internasional,maka
Muhammadiyah tentu akan diam di tempat atau bisa jadi tergulung atau tergeser
oleh organisasi lain yang lebih progresif.
Maka, Muhammadiyah
harus mulai serius memikirkan kira-kira apa tantangan dan peran yang layak
diperankan oleh Muhammadiyah dalam era globalisasi ini. Menurut penulis,
Muhammadiyah harus terus mendengungkan pentingnya kemandirian umat,pencerahan
umat, pencerdasan umat, dan penyejahteraan umat dengan melihat konteks lokal,
nasional, dan internasional. Dalam konteks lokal, Muhammadiyah harus membuka
diri dan terlibat aktif dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan
pendidikan, pengawalan moral kekuasaan,serta penciptaan pemerintahan yang
transparan.
Karena saat ini
era otonomi daerah dan kepemimpinan nasional tampak hanya sibuk beretorika dan
memoles citra tanpa bekerja nyata, maka kepemimpinan lokal adalah harapan yang
masih mungkin untuk memperbaiki nasib negeri ini. Untuk konteks nasional, dalam
situasi negara yang sedang oleng, tanpa ketegasan, serta rakyat yang setiap
hari dijejali dengan isu-isu yang berganti-ganti yang sering memusingkan itu,
hendaknya Muhammadiyah tetap memperteguh dirinya sebagai kekuatan civil society yang tangguh dan penuh
komitmen.
Azyumardi Azra
(2010) menyatakan, dengan kekuatannya dan jaringan organisasinya yang tersebar
di seluruh Indonesia, Muhammadiyah bisa memberikan kontribusi besar pada
masyarakat melalui dakwah, pendidikan, penyantunan sosial, pengembangan
ekonomi, dan amal usaha lainnya untuk penataan masyarakat yang lebih baik.
Dengan peran itu, masyarakat tidak terjebak pada permainan negara dan partai
politik yang sering berpurapura membela dan memberdayakan rakyat.
Pada tataran
internasional, kiprah dan peran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam
tentu harus lebih ditingkatkan. Muhammadiyah harus mampu berperan aktif dalam
kerja sama dan langkah taktis untuk pembelaan dunia Islam dan penciptaan
peradaban baru yang lebih humanis dan berkeadilan. Wallahu a’lam bisshawab.
Oleh Muh Nurrohman S.Sos.I
Aktivis Muda Muhammadiyah Kabupaten Pemalang
0 Response to "Peran dan Tantangan Muhammadiyah di Era Global"
Posting Komentar